Perubahan Purwakarta, Mau ke Mana?



BANYAK yang berubah di Purwakarta. Perubahan itu semuanya sangat mencolok. Dan yang paling mencolok adalah festival setiap malam Minggu.

Di Situ Buleud, yang tak jauh dari Kantor Bupati Purwakarta, pusat kemeriahan festival malam minggu itu. Di sana ada air mancur warna-warni menari. Suasana taman sekitar situ yang gelap membuat pancuran itu terlihat sangat indah dan menawan. Sayang saya tak bisa memotretnya karena saat ke sana akhir pekan lalu, batere HP saya sudah habis.

Yang saya baca di buku sejarah saat sekolah, Situ Buleud adalah situ berbentuk lingkaran yang dibangun oleh Bupati Karawang, saat Kota Purwakarta masih menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Karawang di era kolonial Hindia Belanda. Karena itu selain bangunan kantor bupati, di sekitar situ banyak sekali bangunan tua legendaris seperti Stasiun Purwakarta, Masjid Agung, dan penjara.

Rasanya ingin sekali mengunjungi bangunan-bangunan legendaris itu sambil mengenang masa sekolah. Karena meski saya bersekolah di Cikampek, untuk banyak aktivitas seperti bimbel, kursus, dan bahkan bolos sekolah saya sering ke Purwakarta. Tapi Purwakarta di malam Minggu akhir pekan lalu, sungguh berbeda.



Selain festival budaya yang rutin digelar, ada juga festival wisata kuliner. Kendaraan sulit bergerak. Saya dan istri yang menunggangi motor pun harus banyak mencari celah melalui jalan tikus.

Perubahan Purwakarta yang luar biasa dalam beberapa tahun belakangan adalah buah karya sang bupati, Dedi Mulyadi. Saya harus memuji kinerja bupati muda ini. Terlebih di bidang kebudayaan. Dia sepertinya ingin merestorasi kebudayaan Sunda, sehingga ke mana-mana pun selalu setia dengan ciri khas kain iket, baju kampret putih, dan celana pangsi.

Selain itu, Dedi juga memugar semua gapura di perkantoran pemerintahan menjadi gapura khas Purwakarta. (Untuk soal itu, menurut saya, dia seperti terobsesi menjadikan Purwakarta seperti Bali). Plang kantor pemerintahan dan sekolah pun mendapat pembenahan dengan tambahan tulisan aksara sunda.

Bukan hanya itu, di setiap perempatan, Kang Dedi juga membangun monumen dan patung ciri khas Purwakarta. Misalnya monumen penjual sate maranggi di Cibungur, monumen tembikar khas Pendul di Sadang, dan yang menarik beberapa patung tokoh pejuang di Taman Pembaharuan.

Kinerja Kang Dedi memang luar biasa, tapi bukan tanpa cela. Saat saya berwisata ke Curug Cipurut, Wanayasa, saya sangat terganggu dengan jalanan yang buruk. Jalan berlubang harus kami lalui dari sejak menanjak dari Pasar Rebo, Pasawahan, hingga ke Kota Wanayasa.

Padahal, Desa Pasawahan itu paling hanya selemparan batu dari Kantor Pemkab Purwakarta. Dan yang paling saya sayangkan, pengelolaan sumber daya alam di Purwakarta juga belum terkendali dengan baik.

Misalnya tahun lalu saya masih melihat tambang ilegal galian C beroperasi menambang pasir dan tanah di Sungai Cilampahan, Ciganea. Miris rasanya melihat tambang yang tak jauh dari rumah nenek saya itu. Dulu saat saya kecil, Ciganea rasanya sungguh indah dan teduh.

Tapi sekarang, orang-orang kampung di sana seperti sudah kehilangan harapan hanya bisa pasrah melihat lahan di sekitar mereka dieksploitasi.

Saya yakin Kang Dedi tahu semua permasalahan itu. Meski saat ini beliau sedang gencar keliling melakukan "sosialisasi" bersama beberapa musisi dan pelawak dalam "Dangiang Galuh Pakuan" ke banyak desa dan sekolah.

Saya tahu itu penting untuk memantapkan langkah Kang H. Dedi Mulyadi, SH menuju kursi Gubernur Jawa Barat. Dengan begitu saya juga senang jika dari Jawa Barat banyak muncul figur pemimpin muda alternatif seperti Kang Dedi, Kang Ridwan Kamil, atau Kang Bima Arya.

Saya hanya orang jauh yang mengamati kiprah Kang Dedi. Tapi sebagai orang yang pernah minum es kelapa dan makan sate maranggi, saya hanya ingin titip pesan kepada Kang Dedi agar jangan lupa rumah sendiri.

Duriat sebuah kata berarti Cinta, Duriat juga sebuah nama.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »