Saat Terakhir Sebelum Dia Pergi

Foto Keluarga Duriat Lengkap

HALAMAN kehidupan membalik begitu cepat. Alur ceritanya bergulir sekehendak Sang Penguasa Waktu. Kamis 19 Novémber, kami sekeluarga berkumpul di Stasiun Gambir.

Sore itu kami hendak berangkat ke Malang. Saya dan Shahibah datang paling belakang ketika kereta Gajayana akan bertolak setengah jam lagi. Sementara Bapa, Mamah, dua adik saya bersama anak dan istrinya sudah tiga jam duduk di ruang tunggu.

Bapa dan dua adik saya gusar karena ulah kami sebagai tuan rumah yang tinggal di Jakarta datang di saat mepet. Tapi wajah Mamah tetap tenang, dia seperti tak ingin merusak kegembiraan untuk menghadiri wisuda putra bungsunya di Universitas Brawijaya.

Sebelum Maghrib, piston kereta mulai bekerja. Sambil melaju di atas rel, kami sekeluarga terus bercanda. Bintang malam itu adalah Kaffah, keponakan saya yang sangat menggemari cerita Kereta Thomas. Dia sangat antusias karena ini adalah perjalanan perdananya menaiki kereta sungguhan.

Sebaliknya, malam itu Mamah sangat pendiam. Dia hanya duduk menikmati perjalanan di samping suaminya sambil sesekali menatap langit gelap di luar jendela. Kamis 17 Desember, jelang tengah malam itu kami sekeluarga kembali berkumpul di Ruang Melati RS UKI. Yang membuat kami berkumpul adalah tangis Ahmad Yani, si anak bungsu yang sebulan lalu baru diwisuda.

Anak lelaki keras kepala itu menangis sesegukan saat ditelepon kakak iparnya di Karawang sebelum Maghrib. Dia tak kuasa menahan haru karena Mamah yang ditungguinya sudah berbicara melantur. Shahibah memasangkan mukena dan mewudukan Mamah. Dia meminta Mamah untuk menunaikan salat Maghrib dan berdzikir.

Saat itu saya masih berjuang merujuk pemindahan pasien dari UKI ke Dharmais yang saya usahakan sejak siang. Dua kali saya dan Iryan harus bolak-balik UKI-Dharmais, namun usaha itu menemui jalan buntu. Mengurus rujukan dari UKI ke Dharmais ternyata tak gampang.

Pasalnya, ruangan di RS rujukan kanker itu selalu penuh terisi pasien. Sepanjang perjalanan di Bus Transjakarta, saya hanya bisa berdoa dan membaca Surat Yasin. Berharap barokah malam Jumat bisa membawa kesembuhan untuk Mamah.

Jelang tengah malam, Kaffah sudah lelap di ranjang pasien samping neneknya. Sementara sang Nenek terus menatap jam dinding di bawah tanda salib.

Melihat itu, adek saya menyimpan tanda salib itu di lemari karena dia mulai dihinggapi rasa ketakutan. Ujung cerita malam itu, kami sekeluarga menyaksikan perjuangan para dokter, calon doker, dan suster menjaga nafas Mamah.

Tak ada apapun yang bisa kami lakukan. Saya hanya berdiri terpaku menyaksikan adegan itu. Jumat, 7 Rabiul Awal 1437/18 Desember 2015, sekitar pukul 01.30, Mamah berpindah alam meninggalkan dunia yang fana. Lima lelaki yang dia asuh seketika menjadi pejantan rapuh.

Saya menangis, tiga adik saya menangis, dan Bapa yang kami kenal sangat tegas pun menangis saat melihat istrinya diantar ke ruang jenazah. Innalillahi wainna ilaihi rojiuun.

Duriat sebuah kata berarti Cinta, Duriat juga sebuah nama.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »