Cikampek Menjelma Ujung Aspal Pondok Gede

sawah di cikampek karawang

"Dulu Bapak sama Uwa suka berenang di sini nih.."  Begitulah dialog antara keponakan saya Kaffah dan bapaknya yang saya dengar, hari Minggu lalu.

Saat itu kami bertiga sedang jalan-jalan pagi ke sawah. Ingatan masa kecil pun terbayang di hamparan sawah-sawah di desa kami itu. Dulu di aliran irigasi yang airnya sedang kering itu, kami biasa berenang.

Supaya tidak ketahuan berendam di kubangan, habis berenang kami main bola supaya keringat menyamarkan kulit burik. Herannya, tetap saja ibu kami tahu. Jadi tetap saja kami kena jewer setiap kali habis berenang. :)

Sayang, tak jauh dari irigasi itu, saya lihat puluhan hektar sawah sedang dibuldoser. Sawah-sawah itu telah dijual pemiliknya ke pengembang perumahan.

Termasuk sepetak milik kakek saya. Cikampek dan sekitarnya memang telah berubah makin urban. Sawah-sawah itulah yang menjadi tumbalnya. Saat memandangi sawah-sawah kering yang tengah dibuldoser, di kuping saya terngiang Iwan Fals bernyanyi Ujung Aspal Pondok Gede.

Duriat sebuah kata berarti Cinta, Duriat juga sebuah nama.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »