Tentang Ketik Mengetik

mengetik pakai mesin tik
KERJA jurnalisme (atau ngeblog) sangat lekat dengan aktivitas ini. Jurnalisme tanpa mengetik mungkin seperti pidato bisu.

Bedanya, jika orang pidato salah ucap, dia bisa langsung meralatnya. Sementara, berita yang salah ketik bisa berakibat berabe.

Selama menekuni kerja menulis, saya bukan tidak pernah salah ketik. Jika salah ketik itu sampai tercetak di koran, akibatnya harus terima didamprat redaktur.

Artikel sebagus apapun akan jadi produk gagal jika terdapat typo di dalamnya. Suatu waktu, saya juga pernah didamprat seorang jenderal karena urusan salah ketik ini.

Padahal yang salah ketik bukan saya, melainkan anak buahnya. Saya tak pernah kenal dengan jenderal itu, tapi dia menelpon saya entah dapat nomor dari siapa. Itu karena saya memberitakan tulisan duka cita pada karangan bunga di rumah mendiang Sudomo, mantan Menkopolkam era Orde Baru di media online tempat saya bekerja.

Saat itu, ada dua karangan bunga dari dua menteri yang salah menulis pangkat Sudomo. Dalam karangan bunga dua menteri itu tertulis pangkat Letnan Jenderal, pangkat bintang tiga di TNI Angkatan Darat. Padahal Pangkat terakhir Sudomo di militer adalah Laksamana, bintang empat di TNI Angkatan Laut.

Karena itu saya bergeming ketika sang jenderal meminta berita itu dicabut. Tapi tetap saya persilahkan dia menyampaikan hak jawab.

Urusan pun beres. Begitulah, urusan salah ketik itu bisa membesar dan menggelinding menjadi urusan publik. Ini menjadi semacam peringatan bagi para pekerja yang bergelut dengan ketikan, untuk senantiasa memperhatikan jari agar tak meleset.

Biasakan jari-jari Anda untuk menggerayangi tuts keyboard atau mesin tik dengan pas. Bukan menggerayangi "yang bukan-bukan" seperti pinggang sintal dan dada bidang Agung Hercules. Hehehe..

Duriat sebuah kata berarti Cinta, Duriat juga sebuah nama.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »