Saya Berhutang Budi Pada Seorang Gay


KARENA toples berwarna pelangi itulah saya mengingat sebuah hutang budi saya pada seorang gay. Iya, seorang pria gay!

Kemarin, sepasang teman berkunjung ke rumah kami. Karena toples di rumah kami itu berbentuk seperti rainbow cake, maka mengalirlah obrolan mengenai polemik di media sosial soal dukungan kepada LGBT dengan foto profil berwarna pelangi.

Di antara kami yang berbincang, tak ada satu pun yang mendukung pernikahan sejenis. Namun, kami sepakat meraka tetap perlu disayangi sebagai manusia. Saya sendiri pernah mengalami beberapa kali pelecehan dari pria gay, seperti dicolek di kolam renang.

Namun sama sekali tak ada rasa dendam untuk mereka. Kalo saya dendam, berarti saya harus nyolek balik mereka dong? Dibayar juga ogah deh.. hehehe.

Sebaliknya justru saya prihatin terhadap perilaku seperti itu. Saya yakin, kalangan gay yang lurus pun pasti membenci perilaku pelecehan di publik. Yang membuat saya tak pernah membenci banci dan phobia kepada LGBT, adalah karena suatu waktu saya pernah ditolong oleh seorang pria gay.

Ketakutan dan prasangka buruk saya pada pria gay sudah luntur ketika itu. Kejadiannya saat saya masih bocah ingusan. Mungkin sekitar kelas dua SMP. Saat itu, saya hendak pulang ke rumah di Cikampek untuk liburan catur wulan dari pondok pesantren di Singaparna, Tasikmalaya.

Saat di pondok, saya memang terbiasa pulang sendiri tak dijemput orang tua. Karena pulang sendiri, uang yang saya miliki pun hanya cukup untuk ongkos Tasik-Cikampek saja. Saya naik bus Primajasa jurusan Tasik-Bekasi dari Terminal Cilembang pada sore hari.

Sejak dulu hingga sekarang, tak ada bus dari Tasik ke Cikampek, sehingga saat itu seharusnya saya turun di Pintu Tol Cikopo. Perjalanan Tasik-Cikopo memakan waktu 8 jam. Namun saat bus melewati Cikopo dan memasuki tol Cikampek-Jakarta, ternyata saya tertidur pulas.

Tidur membuat saya tuli dan tidak mendengar teriakan kenek di Cikopo. Saya baru membuka mata di Terminal Bulak Kapal, Bekasi, setelah dibangunkan kenek agar turun. Saya langsung panik, karena harusnya turun di Cikopo. Apalagi uang receh di kantong saya memang hanya cukup untuk naik angkot dari pintu tol ke rumah. Tak lebih.

Saya turun dari bus sambil linglung. Clingak-clinguk di Terminal Bulak Kapal yang sangat asing. Di tengah malam jelang dini hari itu, saya sungguh tak tahu bagaimana caranya agar saya bisa pulang ke Cikampek, dengan uang beberapa ratus saja.

Saat kebingungan begitu, seorang pemuda menegur saya. Ternyata dia memperhatikan saya sejak turun dari bus karena memang dia sebus dengan saya dari Tasik.

Dia bertanya saya dari mana dan hendak ke mana. Pria yang gayanya seperti Ozi Syahputra itu pun lalu mengajak saya menginap di rumahnya di Tambun, dan pulang ke Cikampek saat pagi. Usai mengajak seperti itu, dia mengenalkan diri.

"Gue Yongki," katanya dengan suara sedikit sengau.

Saya lihat rambutnya di-cat, lehernya dibelit syal, dan dia membawa tas perempuan. Melihat gayanya, yang agak kemayu saya sebetulnya takut untuk ikut menginap di rumahnya.

Pikiran buruk pun berkecamuk di kepala saya. Apalagi, saat itu saya pernah membaca berita di koran mengenai penangkapan Robot Gedek yang doyan menyodomi anak-anak lalu dibunuh.

Tapi pikiran buruk itu saya tepis karena saya memang sangat butuh bantuan penginapan dan tambahan ongkos agar bisa pulang ke Cikampek. Di rumahnya yang terbilang besar, ternyata Yongki hanya sendirian. Tak ada sesiapa di sana.

Prasangka buruk bahwa saya akan disodomi semakin merasuki otak. Dan akibatnya saya tak bisa memejamkan mata sama sekali setelah dipersilahkan tidur di salah satu kamar. Saya berdoa dan hanya bisa pasrah kepada Allah, memikirkan masa depan yang akan rusak, jika saya saat itu disodomi.

Di saat genting itu, Yongki masuk ke dalam kamar. Dia mencolek saya. Dia tahu saya tak bisa tidur, karena itu kemudian menyuruh saya pindah kamar. Dia menyuruh saya pindah ke kamarnya dengan ranjang berkelambu.

"Kamu kayaknya ngga bisa tidur karena banyak nyamuk ya?" ujar dia bertanya. "Nggg.. ngga kok," jawab saya.

"Yaudah tidur aja di kamar gue tuh," kata dia.

Lagi-lagi, ketakutan saya makin menjadi saat ditawari tidur di kamarnya. Sumpah, saya benar-benar takut disodomi saat itu.

Namun, karena lelah sehabis perjalanan, akhirnya saya bisa tidur. Sebelum lelap. sayup-sayup saya mendengar suara Yongki mengobrol dengan beberapa temannya. Rupanya ada dua sepupunya datang ke rumah itu.

Alhamdulillah, malam itu saya tidur nyenyak. Tak diganggu nyamuk, apalagi diganggu manusia. Saat hari sudah terang, saya keluar kamar, terlihat Yongki tidur di sofa di depan tivi bersama dua orang sepupunya.

Mendengar saya bangun, Yongki pun bangun. Kemudian menyuruh saya mandi dan sarapan.

"Kalo mau sarapan, masak indomie sendiri di dapur.." "Sekalian ya, gue juga laper," katanya santai. Di dapurnya ada beberapa bungkus mie instan. Saya kemudian masak empat bungkus, untuk saya dan tiga orang lainnya di situ.

Kemudian saya sajikan saja di atas meja. Usai sarapan, kami ngobrol kejadian saya ketiduran di bus. Dia lalu bertanya butuh ongkos berapa ke Cikampek.

"Sepuluh ribu mungkin mas." kata saya polos, tak melebih-lebihkan. Padahal kalo pun saya bilang dua puluh ribu juga mungkin dikasi. Dan betul saja kemudian saya menyesal, karena uang sepuluh ribu itu hanya pas buat ongkos, tak ada buat jajan di jalan. Hehehe..

Yongki memberikan lembar merah bergambar RA Kartini untuk ongkos saya. Dia juga kemudian memberikan kartu namanya kepada saya. Tercatat alamatnya di Amsterdam, Belanda. Dan ternyata rumah di Tambun itu adalah rumah orang tuanya.

 "Kalo nanti kamu punya rejeki ke Belanda, main ya ke apartemen gue," tuturnya dengan tone suara khas.

"Gue cuma tinggal berdua kok sama temen gue." Saya kemudian diantar Yongki ke pinggir jalan Tambun hingga saya naik elf jurusan Karawang.

Sayangnya, kartu nama Yongki itu kini entah di mana. Setiap lewat Tambun, saya selalu mengingat-ingat letak rumah pria yang berhati mulia itu.

PS: Cerita ini mungkin mengalami dramatisasi dialog. Semata agar enak dibaca.

Duriat sebuah kata berarti Cinta, Duriat juga sebuah nama.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »