Santri NU Ikut Muktamara Muhammadiyah

DUA PULUH tahun lalu, saya menyaksikan pondok tempat saya menimba ilmu di Cipasung, Tasikmalaya menjadi tuan rumah Muktamar Nahdlatul Ulama.

Saat itu saya masih bocah yang tak tahu makhluk sejenis apa itu Muktamar. Namun kemudian dari buku yang saya baca, saya kemudian tahu di Cipasung itulah KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur terpilih jadi Ketua Umum PBNU.

Itu adalah tonggak sejarah bagi NU dan bangsa ini. Gus Dur yang kemudian menjadi Presiden itu dikenang sebagai pemimpin pembela kalangan minoritas. Meski mondok di pesantren NU, perjalanan hidup memang membuat saya mengabdi untuk Muhammadiyah.

Dan kini saya akan menyaksikan Muktamar Muhammadiyah yang digelar di Makassar, biar cuma sebagai penggembira. Hehehe...

Sebagai penggembira, saya pun sangat senang kedua organisasi ini kini menggelar Muktamar dengan waktu yang hampir bersamaan. Tentu saja itu seperti bonus besar, setelah Ramadan lalu dan Idul Fitri di awal bulan ini diperingati berbarengan.

Tema Muktamar kedua organisasi juga hampir mirip. "Islam Nusantara" diusung NU, sementara Muhammadiyah mengangkat "Islam Berkemajuan". Bayangkan jika dua tema itu disatukan akan jadi "Islam Nusantara yang Berkemajuan".

Sungguh luar biasa!! Seperti kata Nurcholish Madjid atau Cak Nur, Muhammadiyah dan NU memang seperti dua sayap garuda. Jika keduanya sudah mengepak seirama, bangsa Indonesia pasti akan terbang tinggal landas. Sebagai orang yang pernah belajar di HMI, saya tentu seratus persen setuju dengan kata Cak Nur. :)

Duriat sebuah kata berarti Cinta, Duriat juga sebuah nama.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »