Ondel-ondel dan Barongsay pun Rajin Mengamen

BARONGSAY tak hanya ada saat Imlek atau tahun baru China. Siapa bilang juga ondel-ondel cuma ada saat HUT Kota Jakarta. Buktinya di sekitaran tempat saya tinggal rasanya hampir tiap hari saya melihat dua kesenian tradisi itu. Entah saya harus suka atau miris, melihat ondel-ondel setiap hari di jalan raya Jatiwaringin.

Foto: Media Indonesia
Bahkan, dalam sekali melintas di jalan itu saya melihat tiga kali ondel-ondel. Dan hebatnya lagi, di sebuah sore saya pernah melihat ondel-ondel yang paginya saya potret itu. Ternyata, pengalaman itu bukan dialami saya saja.

Istri saya pun mengatakan hal yang sama. Dari Rawamangun ke Lubang Buaya dengan rute yang berbeda, dia juga melihat tiga pengamen ondel-ondel. Jika di dua rute yang berdekatan saja ada enam kelompok pengamen ondel-ondel, jadi ada berapa kelompok ondel-ondel ini di Jakarta?

"Kesuksesan" ondel-ondel mengamen, rupanya dikuti barongsai. Sudah beberapa kali saya melihat barongsai mengamen juga di sekitaran Lubang Buaya dan Pondok Gede. Uniknya, jika biasanya barongsai dimainkan oleh kalangan Tionghoa, rombongan barongsai yang saya temui kemarin semua anggotanya berkulit coklat dan bermata belo.

Rombongan barongsai ini melewati depan rumah saya siang. Dan sorenya, usai lari saya menemui mereka tengah menghitung hasil jerih payah di depan minimarket depan rumah. Ternyata, rombongan barongsai ini asalnya dari Jelambar, Jakarta Barat.

Waduh, saya tak habis pikir rombongan barongsai ini jauh juga daya jelajahnya ya.. Dari ujung barat ke ujung timur Jakarta. Kata Rizki, seorang anak anggota rombongan barongsai, yang saya tanyai, untuk menuju lokasi mengamen mereka diantar jemput oleh mobil pribadi.

Saya menduga, mobil itu adalah milik bos para pengamen barongsai itu. Rizki sendiri adalah anggota rombongan paling mungil. Dia mengaku berhenti sekolah di kelas 4 SD untuk fokus berlatih barongsai.

"Saya berlatih dari umur tujuh tahun bang," ujar Rizki. Tapi saya heran, Rizki mengatakan belajar barongsai secara otodidak bersama teman-temannya.

"Kita ngga ada guru, jadi belajar barongsai sama-sama aja," kata dia lagi. Selain ondel-ondel dan barongsai, masih ada pengamen unik lainnya.

Di jembatan pondok gede ada sebuah band rock yang mengamen di pinggir jalan. Band ini terdiri dari tiga orang seperti Nirvana atau Netral, menyanyikan lagu-lagu keras.

Ada juga kelompok angklung dan arumba di depan Asrama Haji, yang rutin tampil tiap sore. Penampilan kelompok arumba ini luar biasa rapi dan keren. Perkiraan saya mereka adalah kelompok arumba para pegawai TMII yang mencari tambahan uang jajan.

Duriat sebuah kata berarti Cinta, Duriat juga sebuah nama.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »