Ke Cipurut, Mencari yang Bersembunyi di Tempat Terang

Curug Cipurut PurwakartaCURUG Cipurut adalah salah satu air terjun yang yang terletak di area hutan lindung Gunung Burangrang, kawasan Bandung Barat.

Hanya saja, untuk menuju Cipurut kita bisa melalui Desa Sumurugul, Kecamatan Wanayasa, Purwakarta. Desa Sumurugul sendiri adalah sebuah desa wisata.

Penduduk desa ini, sangat sadar tempat tinggal mereka sering dikunjungi turis. Karena itu, kebersihan desa ini pun sangat terjaga.

Di beberapa sudut jalan setapak menuju curug, saya jumpai peringatan dan kutukan dalam Bahasa Sunda agar pengunjung tidak membuang sampah.


Saat sekolah dulu, Cipurut ini tempat pelarian sekaligus pelatihan saya. Saat bosan dengan pelajaran yang memusingkan, saya dan beberapa teman sering berkunjung ke curug ini. Bermotor dari Cikampek, kemudian setelah sampai di sana kami yang semuanya cowok hanya menghabiskan waktu dengan mandi air dingin dan belajar menghisap tembakau.

Yang penting, kami pulang saat sore seperti anak lainnya pulang sekolah agar tidak ketahuan bolos. Hehehe. Tapi di lain waktu, saya juga pernah berkemah untuk tadabur alam bersama anak-anak aktivis islami di sekolah kami.

Curug ini menjadi arena untuk mendoktrin anggota baru. Akhir pekan kemarin, saya kembali mengunjungi curug ini bersama Shahibah. Belasan tahun tak ke sana, rupanya tak banyak yang berubah. Hanya letak bangunan musholla dari kayu, telah berpindah dari kaki curug ke tempat agak ke bawah.

Curug Cipurut Purwakarta
Sejoli memadu kasih mesra di Curug Cipurut. Hehehe :)
Saat kami kunjung, cuaca sedang bersahabat. Hanya saja, jalan tanah setapak yang kami lalui agak basah dan licin, setelah paginya diguyur gerimis. Oya, jalan setapak itu, tidak bisa dilalui motor. Jadi kita harus berjalan kaki sejauh 500 meter dengan kontur menanjak moderat.

Namun, kelelahan menanjak itu terobati dengan pemandangan sepanjang perjalanan. Sejauh mata memandang, Kami di disuguhi hamparan kebun teh, undakan terasering sawah, dan barisan pohon pinus.

Selain itu, suara serangga pohon (tonggeret dalam Bahasa Sunda) pun menjadi musik pengiring perjalanan kami. Sore itu, meski sedang musim liburan long weekend, Cipurut tak banyak dikunjungi wisatawan.

Jadi kami bisa puas berfoto berdua di sana. Sebelum pulang saya sempat berbincang dengan Pak Aceng, seorang pedagang kopi dan mie instan.

Perbincangan itu, mengungkap fakta yang baru saya tahu. Ternyata, di kaki curug ada sebuah mata air obat. Jika diyakini, kata Pak Aceng, bisa mengobati penyakit apa saja. Kebetulan saya dan istri sudah meminum air dari mata air itu saat berada di curug.

Jalan setapak menuju Curug Cipurut yang indah.
Selain itu, di sekitar curug ada sebuah makam wali. Menurut Pak Aceng, di malam-malam tertentu banyak orang berziarah untuk ngalap berkah dan karomah.

"Memang jarang yang tahu, curug ini memang ramai dikunjungi wisatawan. Biasanya, makam aulia itu selalu tersembunyi di tempat yang terang," ujar Pak Aceng.

Saya menggarisbawahi kata 'bersembunyi di tempat yan terang' itu. Wow,, sungguh dalam sekali maknanya. Pak Aceng, mengajak saya untuk mampir lagi lain kali.

Karena menurut dia, ada satu curug lagi di dekat Cipurut yang bisa dieksplorasi. "Curugnya lebih tinggi dan lebih indah. Kalo mau ke sana harus dipandu. Soalnya medannya lebih berat," kata Pak Aceng. Perkataan Pak Aceng itu pun membuat kami jadi penasaran. Jika ada waktu libur lagi, kami telah bertekad kembali untuk mengunjungi Curug Cipurut lagi.

Duriat sebuah kata berarti Cinta, Duriat juga sebuah nama.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »