Rakyat Beri Upeti untuk Pejabat

PADA pelaksanaan Seba Baduy, orang-orang Suku Baduy (luar dan dalam) berbondong ke Pendopo Gubernur Banten untuk menyerahkan upeti. Betapa repotnya mereka membawa hasil bumi seperti bertandan-tandan pisang, berkarung-karung beras dari huma, gula aren, dan madu.

Semua itu mereka berikan untuk para 'penggede'. Ingat lho, banyak dari mereka yang berbondong-bondong jalan telanjang kaki. Tapi setelah upeti itu diberikan, mereka tak menuntut banyak hal dari para penggede itu.

Mereka tak menuntut dibangunkan fasilitas kesehatan lengkap, sekolah, atau infrastruktur yang nilainya triliunan. Orang Baduy hanya meminta mereka dijamin hidup aman di kampungnya, di Kanekes, Banten. Itu saja.

"Kok masih feodal sih, bayar-bayar upeti?" mungkin begitu celoteh kita yang merasa lebih beradab. Padahal mah di kota juga tradisi beri memberi upeti ini masih sering berlangsung.

Kalo ngga, saya yakin lembaga yang namanya KPK ngga akan pernah ada. Saya sendiri, melihat prosesi orang Baduy memberikan upeti itu rasanya, asa kumahaaa kitu.

Kita yang tinggal di kota, juga selalu menjadikan pajak sebagai pembenaran segalanya. Kita adalah kelas menengah ngehe yang setelah membayar pajak, merasa bisa menuntut apa saja dari negara.

Tanpa kita sendiri bersikap menuntut kepada diri sendiri. "Gue kan udah bayar pajak.." jadinya kita pakai mobil pribadi setiap hari sambil misuh-misuh karena kena macet. "Gimana sih ini macet?! Polisi di mana sih?"

Hampir setiap hari makian seperti itu terbaca oleh saya di time line media sosial. Padahal yang menyebabkan macet ya orang yang memaki itu sendiri.

Duriat sebuah kata berarti Cinta, Duriat juga sebuah nama.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »