Selamatkan Jalur Sepeda BKT (Sebuah surat terbuka untuk Pak Jokowi)


ASSALAMUALAIKUM, apa kabar Pak Presiden? Semoga saja Anda sehat sentosa tak kurang satu apa pun. Saya tahu pekerjaan Anda sebagai presiden kian berat belakangan ini, di tengah belitan berbagai persoalan seperti naiknya harga beras, melemahnya nilai tukar rupiah, dan berbagai soalan pelik lain.

Tapi Pak Presiden, ingatkah Anda pernah menandatangani sebuah prasasti untuk meresmikan 'Jalur Sepeda' di Kanal Banjir Timur (BKT) pada 16 Desember 2012 lalu? Saat itu, Anda tertulis dengan jabatan masih sebagai Gubernur DKI.

Oya, hampir saja saya lupa memperkenalkan diri. Saya Irvan, seorang yang menyukai olahraga bersepeda dan lari. Tempat favorit saya untuk berlari dan bersepeda itu adalah tempat di mana prasasti yang Anda tandatangani berada Pak. Saya yakin Anda akan selalu ingat dengan prasasti itu.

Meski kegiatan bertumpuk, Anda kan hampir setiap pekan selalu menyempatkan diri berolahraga di Jalan MH Thamrin saat hari bebas kendaraan bermotor (car free day). Jika tidak jalan kaki, Anda akan naik sepeda untuk menyapa rakyat yang sedang berolahraga.

Akhir tahun lalu, saat Walikota London Boris Johnson berkunjung, Anda mengajaknya jalan-jalan keliling jalur car free day dengan bersepeda. Anda seolah ingin memperlihatkan kepada Boris bahwa Jakarta punya sarana yang baik bagi warganya.

Saat menjadi Gubernur, Anda juga rutin mengajak pegawai di Balai Kota untuk menggunakan sepeda. Anda menggandeng komunitas pekerja bersepeda (bike to work) untuk mendampingi Anda berangkat dari rumah dinas di Taman Surapati Menteng ke Balai Kota.

Jarak segitu menurut saya sih cukup dekat. Tapi karena aktivitas Anda bersepeda saat itu diliput, tentu saja efeknya besar. Harapannya, aktivitas berangkat ngantor dengan bersepeda akan semakin popular. Dengan begitu, populasi kendaraan bermotor bisa ditekan, kemacetan bisa teratasi, dan polusi pun berkurang. Saya yakin, para pesepeda yang dipimpin Om Toto Sugiarto pun tidak berpikir itu pencitraan kok.

Mereka begitu setia mendampingi Anda meski harus berangkat lebih pagi dari rumah masing-masing agar bisa berangkat bersepeda bareng gubernur. Kembali ke soal prasasti itu tadi Pak Presiden, Anda masih ingat kan ya?

Prasasti itu pernah saya potret di Taman UT Aheme, dekat perempatan Buaran, Duren Sawit. Kondisinya sekarang kurang terawat Pak Presiden. Lihat saja, tangan vandal pun ada yang menggambar kelamin di atas tanda tangan Anda. Saya sendiri mengutuk keras aksi vandalisme di taman UT Aheme yang selalu saya gunakan untuk lari pagi.

Tapi aksi vandalisme itu memang seperti dibiarkan, Pak Presiden. Fasilitas yang dibangun dengan uang triliunan itu kadang seperti ditelantarkan. Padahal, menurut saya, prasasti itu adalah sebuah bukti sejarah paling berharga yang ada di situ lho Pak...

Itu belum selesai, kini ada masalah baru Pak Presiden. Saya pastikan prasasti itu akan semakin tidak berharga, karena jalur sepeda yang Anda resmikan itu akan dibuka untuk digunakan kendaraan bermotor. Alasannya seperti biasa Pak, untuk menanggulangi kemacetan.

Saya yakin Anda pun tahu, sebesar apapun jalan yang dibangun di Jakarta tidak akan pernah cukup buat menampung mobil dan motor yang saat ini berseliweran. Karena itu Anda pun menambah armada Busway saat masih gubernur (meski sedikit bermasalah) dan kini sedang membangun jalur mass rapid transit (MRT).

Langkah memperbolehkan kendaraan bermotor untuk menggunakan jalur sepeda di Kanal Banjir Timur (BKT) itu adalah langkah mundur Pak Presiden. Jalur sepeda, harus tetap menjadi jalur sepeda. Karena uang triliunan dihabiskan memang untuk itu Pak. Ayolah Pak kita main sepedaan atau lari di BKT...

Bisa baca juga..

Duriat sebuah kata berarti Cinta, Duriat juga sebuah nama.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »