Nasib Seorang Penjahit di Pasar Santa

MATANYA nanar menatap cahaya kerlap-kerlip. Anak muda berjingkrakan tepat di depannya. Namun Eka, 62, hanya termenung. Kehadiran Eka di sebuah sudut Pasar Santa, Sabtu (7/2) malam, seakan mencolok.

Perempuan berkerudung itu hanya duduk di kelilingi dua mesin jahitnya. Sementera di sekelilingnya, muda-mudi dengan gaya masa kini hilir mudik bersosialisasi. Kebetulan, saat itu, tepat di depan toko tempat biasa eka menerima jasa menjahit, sebuah toko sepatu baru dibuka.

Menyambut pembukaan itu, digelarlah sebuah pesta meriah di lorong toko. Dua orang disc jockey tampak asyik melakukan gerakan seperti orang cuci piring. Sementara beberapa lainnya berjingkrak mengikuti irama musik. Seharusnya tokonya sudah tutup sebelum maghrib. Namun, dengan alasan menunggu cucu, Eka pun setia.



Cucu Eka ikut menemani orang tuanya berjualan pakaian impor di salah satu toko. “Daripada bengong di rumah, mending saya di sini nungguin cucu. Nanti pulang bareng anak-cucu,” ujar Eka.

Eka mengakui, dengan tumbuhnya Pasar Santa menjadi pasar kreatif, berimbas juga pada usahanya. Pasar tradisional yang strategis diapit sentra bisnis SCBD, Kawasan Kebayoran Baru, dan Kemang itu, kini tumbuh telah menjelma menjadi keajaiban gerakan ekonomi kreatif. Pasar yang sebelumnya susah dipasarkan dan selalu sepi, dalam beberapa bulan terakhir berubah drastis.

Suasana ramai, akan lebih berlipat saat Sabtu malam. Suasana pasar ini berbeda dengan pasar tradisional lainnya. Semuanya dikemas kreatif, dari bangunan toko, hingga cara menjamu dan menyajikan makanan. Meski kini didominasi oleh toko-toko kreatif yang dikelola anak muda, namun sebagai pasar, Santa masih berdampingan dengan para penghuni lamanya.

Eka memang salah satu penghuni lama di situ. Sebelumnya, di lantai satu Pasar Santa hanya ada lima toko saja yang buka. Sejak direnovasi pada 2007 pasar itu tak terlalu laku.

“Sejak rama begini, saya juga senang. Jahitan juga jadi rame. Dagangan anak saya juga laku,” ujar Eka.

Sebagai penghuni lama, Eka salut pada anak-anak muda yang berhasil menyulap pasar itu menjadi seperti sekarang. Setelah pasar ini ramai, kios jahit milik Eka pun kini ramai ditawar orang untuk disewa, dibeli, atau digunakan untuk usaha dengan sistem bagi hasil.

Gerai yang sudah menjadi hak milik itu sebelumnya dibelik Eka dengan harga Rp 15 juta. Namun kini gerainya sudah ada yang menawar hingga Rp 300 juta. Untuk tawaran kontrak, Eka mengaku sudah ada yang menawarinya Rp 30 juta per tahun.

“Yang mau ngontrak ke saya sampai ngantri, tapi masih saya tahan. Enak sih, tinggal terima duit. Tapi kalau ini dikontrakin, saya belum tahu mau ngapain,” katanya. [dimuat di Harian Nasional, Senin (9/2)]

Agen pulsa dahulu, Wartawan dan Agen Asuransi kemudian. HP/WA: 081271617534

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »