Kudeta dan Kopi Turki


DALAM POLITIK, kudeta serupa kopi. Hitam pekat dan pahit. Bedanya kudeta sama sekali tak enak. Sementara kopi, jangan ditanya.. Nikmat mana lagi yang bisa didustakan dari biji dan serbuknya?

Salah satu varian kopi yang baru saya coba adalah kopi Turki atau biasa disebut Turk Kahvesi. Sebelum Ramadan, ibu mertua yang baru muhibah ke sana membawakannya sebagai buah tangan.

Bagi lidah kampungan saya yang cuma baru bisa berkutat di sekitaran kopi nusantara dan Timor, Turk Kahvesi membawa petualangan aroma ke level lebih tinggi. Seperti ada campuran rempah yang kaya, jauh berbeda dari kopi-kopi yang saya seruput sebelumnya.

 Dibaca dari sejarahnya, Turk Kahvesi teryata salah satu varian kopi tertua di dunia yang dikembangkan sejak abad 16 pada era Utsmani (Ottoman), jauh sebelum orang Eropa mengenal kopi dan menjadikannya komoditas untuk ditanam di koloni jajahan mereka. (cek wikipedia) Yaudah sih, daripada saling kudeta, mending Bang Erdogan sama Cing Gulen minum kahvesi bareng yuk!

Balik Usai Mudik



KE JAKARTA kami kembali, untuk bergelut lagi dengan rutinitas. Siang ini kami balik, setelah sepekan mudik.

Mudik hingga balik tahun ini, kami lalui dengan angkutan umum. Pergi mudik dengan taksi uber ke Indramayu, naik bus PO Sahabat dari Indramayu ke Cikampek, dan balik naik kereta api dari Cikampek ke Pasar Senen.

Ide naik kereta, tercetus begitu saja di kepala Shahibah saat melihat bus jurusan Kampung Rambutan berjubel penumpang. Sudah lama, dia ingin menjajal jalur kereta Cikampek - Jakarta, baru kali ini bisa terlaksana.

Sementara buat saya, jalur kereta Cikampek - Jakarta adalah jalur nostalgia. Saat bosan di sekolah, bolos main lihat monas, ke Kwitang beli buku, dan ke perpustakaan nasional.

Uniknya, ongkos pulang balik naik kereta hanya 1 persennya saja ongkos pergi mudik dengan taksi uber. Naik kereta cuma Rp 6.000, sementara naik uber Rp 600 ribu. Super irit setelah dompet terkuras selama Lebaran. Hehehe

Alhamdulillah mudik hingga balik tahun ini lancar jaya, tanpa sedikit pun kemacetan kami temui.

Tambal Aspal



SEBETULNYA jalan aspal di depan rumah kami masih sangat bagus, masih rata dan mulus. Tapi semalam Kelurahan menambalnya dengan aspal yang baru.

Begitulah dunia, terkadang ngga adil. Di Lubang Buaya, jalan kelurahan masih bagus udah diaspal lagi. Sementara di kelurahan sebelahnya yang udah masuk ke Bekasi, jalan raya udah bolong dibiarin aja.

Soal pengaspalan semalam itu, saya sih yakin, ini bukan bagian pencitraan Yusril atau Wanita Emas. Hehehe :)

Dan pastinya bukan juga pencitraan Gubernur Ahok. Soalnya tadi pagi ada yang bikin rada ilfeel. Dua orang cowok berkumis (saya kira dari kontraktor) gedor-gedor gerbang nawarin aspal buat ratain jalan sama gerbang.

"Permisi mas, saya mau nawarin aspal. Bagus nih mas kalo diratain." "Ngga pak, biarin aja begitu. Soalnya itu buat jalan aliran air. Emang berapa pak kalo ngaspal segini?"

"Delapan setengah mas." "Hah 8,5 juta?! Mahal banget pak." "Bukan, 850 rebu mas. Bisa ditawar kok."

Tetap saja saya tak mengajukan tawaran. Rapat pagi dengan kontraktor itu pun berakhir deadlock.

Hikmah Juara Leicester untuk Pengusaha Indonesia

Hikmah Juara Leicester untuk Pengusaha Indonesia


LUPAKAN sejarah, uang, dan nama besar. Dengan kemauan dan strategi, tim yang di awal musim dipandang sebelah mata, ternyata bisa jadi juara. Silakan nikmati kememangan, dan pujian!!

Kemenangan Leicester ini, berarti juga kemenangan King Power, sebuah perusahaan retail perjalanan asal Thailand. Bayangkan, berkah yang diperoleh King Power itu. Luar biasa bukan?

Kini bandingkan dengan Garuda dan BNI yang yang lebih memilih merogoh kantong sangat dalam dengan mensponsori Liverpool dan Chelsea. Sungguh pilihan yang salah. Bayar mahal untuk tim sarat sejarah kebesaran namun nihil gelar.. :p